Kusno, Abidin. 2009. Ruang Publik, Identitas dan Memori Kolektif: Jakarta Pasca-Suharto. Yogyakarta: Ombak.

 

Buku “Ruang Publik, Identitas dan Memori Kolektif: Jakarta Pasca-Suharto” karya Abidin Kusno memberikan perpektif baru bagi saya. Sebagai seseorang yang cenderung skeptis, saya perlu mengacungkan jempol kepada Abidin Kusno yang telah mampu membuka pikiran dan mata saya (bahkan sampai terbelalak) terhadap makna di balik ruang kota. Buku ini menyadarkan saya akan adanya makna dan wacana yang tersimpan di berbagai ruang kota yang secara langsung maupun tidak langsung telah membentuk memori kolektif dan identitas penghuninya. Ruang-ruang kota Jakarta tidak hanya merepresentasikan kemajuan zaman, melainkan menjadi sebuah pesan (tak jarang berupa wacana kekuasaan) tertentu yang berperan penting terhadap memori kolektif dan identitas penghuninya.

Buku ini merupakan karya perdana dalam seri “Kota, Kata dan Kuasa.” Seri penerbitan buku ini bertujuan untuk menciptakan ruang-ruang bagi eksplorasi kritis terhadap simpul-simpul hubungan antara kota dan kebudayaan yang membangun sekaligus dibangun oleh wacana-wacana kekuasaan. Dengan menggunakan pendekatan ‘interdisciplinary studies,’ penerbitan ini memiliki misi untuk menjembatani teori dan praktik dan menyajikan keragaman dari ekspresi ‘urban advocacy’ demi kota yang progresif, adil dan majemuk.[1]

Terbagi menjadi tiga bagian dan enam bab, buku Abidin Kusno menjelaskan secara kronologis mengenai bagaimana pergulatan antara ruang dan waktu di Kota Jakarta yang tidak berjalan setara telah membentuk ruang publik, identitas dan memori kolektif kita. Dimulai dari masa Orde Lama dimana ruang Kota Jakarta dirajut pertama kali oleh bangsanya sendiri. Lalu pemaparan Abidin Kusno berlanjut ke masa Orde Baru di bawah kepemimpinan rezim Suharto yang berpedoman pada paradigma “urbanisme-nasionalis”, yakni sebuah peleburan antara paradigma pembangunan liberalisasi a la barat (IMF) dengan wacana kekuasaan nasionalisme oligarki konservatif. Abidin Kusno juga membahas mengenai terjadinya ‘kelonggaran di pusat’ yang berdampak pada wacana pembangunan ruang publik Kota Jakarta pasca-Suharto. Bagian terakhir atau bagian ketiga dari buku ini bertajuk “Tatanan Baru?.” Abidin Kusno menjelaskan bagaimana pemerintah kota melalui proyek berdimensi perbaikan infrastruktur telah ikut membentuk suatu budaya politik “demi rakyat” pada era pasca-Suharto. Salah satu contoh proyek yang dimaksud adalah busway.

Berdasarkan pernyataan Abidin Kusno, buku ini bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa kita perlu dan bisa menyetarakan waktu dan ruang, namun berusaha untuk memperlihatkan bagaimana pergulatan antara ruang dan waktu yang tidak berjalan setara ini telah membentuk ruang publik, identitas dan memori kolektif kita. Buku ini memberikan perspektif yang sangat unik bagi saya dan buku ini seakan mengajak saya untuk ‘bersemiotika’ dengan ruang publik yang saya huni.

[1] Catatan Penerbit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s