Tulisan ini dibuat oleh saya untuk Kasospol Update HMIP FISIP UI 2017 (bit.ly/CapsadanPolitik)

Permainan kartu Big Dai Di (atau dikenal juga sebagai Big Two) diperkenalkan pertama kali sekitar tahun 1980-an di Tiongkok. Di Indonesia, permainan ini dikenal sebagai permainan capsa. Permainan ini hanya terdiri dari empat pemain, tidak lebih dan tidak kurang. Kartu dibagi secara rata kepada empat pemain, sehingga masing-masing pemain mendapatkan 13 kartu. Capsa hampir sama seperti permainan cangkul di mana kartu yang dikeluarkan oleh seorang pemain harus dilawan dengan kartu yang lebih tinggi oleh pemain lain, namun perbedaannya adalah kartu dapat dikeluarkan dalam bentuk paket. Kartu dapat dikeluarkan dalam bentuk single (satu kartu), pair (dua kartu yang sama), threes (tiga kartu yang sama), dan paket (terdiri dari lima kartu). Ada lima jenis paket, berikut paket capsa yang diurutkan dari yang terendah hingga terkuat: 1) straight, lima kartu yang berurut tanpa harus memiliki kembang yang sama; 2) flush, lima kartu dengan jenis kembang yang sama; 3) full house/polo, terdiri dari threes dan pair; 4) four of a kind, paket yang terdiri dari empat kartu sama dan single; dan 5) straight flush, merupakan paket tertinggi permainan capsa yang terdiri dari lima kartu berurut dengan kembang yang sama. Perlu diketahui bahwa kartu yang dikeluarkan hanya dapat dilawan dengan jenis yang sama, single dilawan dengan single, pair dilawan dengan pair, dan seterusnya.

Pemain yang kartunya habis terlebih dahulu akan memenangkan permainan capsa. Jenis pemenangan permainan capsa ada yang berdasarkan poin dan ada yang berdasarkan hand. Pada dasarnya setiap tongkrongan memiliki aturan main yang berbeda-beda. Ada tongkrongan yang menyebut paket four of a kind sebagai bomb. Jika salah satu pemain mengeluarkan kartu 2, pemain lain yang memiliki paket bomb dapat mengalahkannya dan lawan akan kalah langsung. Hal itu berbeda dari peraturan capsa a la Tiongkok (Big Dai Di) di mana four of a kind tidak mengalahkan kartu 2. Adapun aturan tongkrongan yang melarang pemain untuk mengeluarkan kartu 2 di akhir, dan ada tongkrongan yang tidak melarang hal itu. Pada dasarnya, aturan ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama antarpemain.

Menurut Penulis pribadi, terdapat dua faktor untuk memenangkan permainan capsa, keberuntungan dan kepiawaian. Keberuntungan dapat diartikan sebagai suatu keadaan atau nasib yang mujur. Sebagai contoh, pemain mendapatkan kartu-kartu yang kuat dan menguntungkan posisinya dalam permainan. Mendapatkan kartu 2–kartu tertinggi dalam permainan capsa–adalah salah satu bentuk keberuntungan. Keberuntungan tentunya menambah peluang pemain dalam memenangkan capsa. Secara umum, kepiawaian adalah kemampuan atau kecakapan dalam melakukan suatu hal. Pada konteks permainan capsa, kepiawaian adalah kecakapan pemain dalam mengatur strategi dan menentukan langkah. Kedua faktor ini memiliki pengaruh yang sama dalam menentukan peluang pemain menang, dengan kata lain 50/50.

Kontestasi politik demokrasi dapat kita analogikan seperti permainan capsa. Negeri Penulis analogikan sebagai tongkrongan yang memiliki aturan main berbeda-beda. Dalam konteks konstetasi politik, kartu yang kuat adalah pengaruh politik dan keberuntungan dalam mendapatkannya adalah kekuasaan. Penulis menganalogikan keempat pemain terdiri dari Negara[1], Korporasi, Civil Society dan Rakyat. Keempat pemain memiliki “keberuntungan” dan “kepiawaian” yang berbeda-beda. Berikut kartu masing-masing pemain:

Negara

Negara

Civil Society

Civil SOciety.png   

Korporasi

Korporasi

Rakyat

Rakyat.png

Permainan pun dimulai di “Tongkrongan Demokrasi Utopia”. Rakyat dengan kartu 3 wajik berhak untuk memulai permainan. Berjalannya permainan, Negara pun mengeluarkan paket straight yang ia miliki. Civil Society menanggapi paket itu dengan flush yang ia miliki. Namun sayangnya Korporasi melawan dengan paket yang lebih kuat, yakni paket polo 9. Rakyat memutuskan untuk tidak mengeluarkan paket four of a kind yang ia miliki terlebih dahulu. Dengan demikian, Korporasi melanjutkan permainan. Kartu masing-masing pemain tinggal sedikit. Negara pun mengeluarkan kartu 2 sekop yang ia miliki ketika tensi permainan semakin tinggi. Ini lah kesempatan Rakyat untuk melawannya dengan paket four of a kind yang ia simpan sebelumnya. BOMB! Negara pun kalah, dan permainan dimenangkan oleh Rakyat.

Penulis berpandangan bahwa contoh permainan di atas adalah demokrasi yang cukup ideal[2], di mana rakyat lah yang berdaulat. Meskipun Negara memiliki kartu terkuat–yakni 2 sekop–Rakyat dapat mengalahkan Negara dengan paket four of a kind yang justru terkomposisi dari kartu-kartu yang lemah. Akan tetapi kita perlu ingat, bahwa masing-masing tongkrongan memiliki aturan main yang berbeda-beda. Bisa saja suatu “tongkrongan”, rakyat tidak dapat secara langsung mengalahkan negara karena tidak menerapkan aturan bomb. Bagi penulis, bomb atau four of a kind pada kontestasi politik adalah gerakan rakyat untuk menentang sebuah kebijakan yang tidak adil. Penulis merefleksikan diri dengan gerakan-gerakan rakyat yang menolak kebijakan pemerintah di Indonesia. Penulis teringat akan gerakan petani Kendeng yang menolak pendirian pabrik semen di daerahnya, gerakan nelayan tradisional yang menolak reklamasi di Teluk Jakarta, gerakan buruh yang menolak amnesti pajak, dan berbagai gerakan lainnya. Four of a kind rakyat tidak serta merta mengalahkan 2 sekop negara.

Hal yang ingin Penulis sampaikan pada tulisan ini adalah meskipun berbagai “tongkrongan” (baca: negeri) menjalankan permainan yang sama, yaitu “capsa” (baca: demokrasi), hal itu tidak menjamin berjalannya aturan main yang sama. Ada tongkrongan yang mengatur four of a kind sebagai bomb untuk kartu 2, dan ada juga yang mengatur tidak. Seperti yang kita pahami dari tulisan ini bahwasanya faktor kemenangan pemain bukan hanya “keberuntungan” dan “kepiawaian”, melainkan “aturan main” memiliki andil signifikan. Capsa dan politik!

[1] Perlu diingat bahwa Negara adalah organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat

[2] Penulis menyadari bahwa kalahnya civil society dari Korporasi adalah hal yang sebenarnya tidak ideal. Namun pada konteks analogi ini, Penulis berusaha mengkontekstualisasikan suatu realitas tertentu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s