Pada tulisan ini saya hanya akan berbagi cerita pengalaman pribadi saya. Blog seharusnya menjadi ajang selebrasi diri. Terkesan aneh memang sebutan ‘selebrasi diri’, bahkan terkesan sangat narsis nan berego tinggi. Kendati demikian, adalah hak seorang penulis untuk bebas berbicara. Singkatnya, tulisan ini akan menceritakan pengalaman hidup saya secara abstrak. Hal ini dimaksudkan sebagai ajang aktualisasi diri. Selama ini saya merasa tulisan pada blog ini belum mencerminkan siapa diri saya. Di tulisan ini, saya tidak akan memasukan footnote apapun dan mengutip siapapun. Terkadang saya muak dengan banyaknya kutipan yang saya buat dalam tulisan. Tenang saja, ini memang otokritik. Sekali-sekali seseorang perlu duduk dengan laptop dan berkutat bersama jari dan otaknya saja. Hal seperti itu sangat perlu untuk melatih orisinalitas dalam menulis. Meskipun tidak semua orang tertarik membaca tulisan ini–bahkan mungkin tidak ada, but here it goes…

Perlu diketahui bahwasanya saya bukan seorang pujangga yang menuturkan kata manis dan memukau hati para pembaca. Saya pun bukan seorang kamerad gerakan yang berjuang atau melakukan suatu perlawanan… Saya juga tidak mengidentifikasikan diri saya dengan ideologi apapun. Menurut saya, urgensi mengafiliasikan diri terhadap suatu ideologi–yang pada dasarnya adalah rumusan filsuf–belum ibaratnya menampar saya. Saya pun pernah memiliki pandangan skeptis terhadap orang yang berideologi. Pernah suatu waktu saya berhadapan dengan orang kiri dan dalam hati saya berkata, “the world does not conspire against you…” Ya, saya tidak pakem pada ideologi tertentu. Tidak, saya bukan orang yang tidak berprinsip. Saya memiliki pendirian dan menganut nilai-nilai yang saja anggap benar.

Masih berbicara tentang ideologi, apa sebenarnya signifikansi ideologi itu? Senior saya di kampus pernah berkata bahwa ideologi menjadi dasar yang amat penting bagi kita untuk berargumentasi. Baik kalau begitu, namun bukankah ideologi itu pada dasarnya utopis? Bukankah ideologi itu–sepengetahuan saya ya–tidak dapat diwujudkan sepenuhnya sesuai dengan konsepsi si filsuf? Kedua pertanyaan ini yang semakin membuat saya mempertanyakan urgensi bagi saya untuk pakem pada suatu ideologi. Maka saya menetapkan pendirian saya sendiri. Saya pun menyadari bahwa ketika prinsip kita dibenturkan dengan diskursus harian, bisa saja lemah. Dosen mata kuliah Pemikiran Politik Kontemporer saya memperkenalkan saya dengan pemikiran Michael Sandel. Saya menyadari prinsip pribadi saja tidak kuat untuk berbenturan dengan diskursus kehidupan sehari-hari. Apa ini adil? Apa itu baik? Apa baik itu? Apa yang seharusnya? dan seterusnya…

Berbicara tentang kehidupan kampus, saya berkuliah jurusan ilmu politik. Tak tahu mengapa, keinginan untuk mempelajari ilmu politik terbesit dalam benak saya. Saya pernah bermimpi untuk menjadi sutradara film. Mimpi itu termotivasi dari kesukaan saya untuk menonton film. Namun sayangnya–atau tidak sayangnya, mimpi tidak selalu berbanding lurus dengan apa yang terbaik. Saya tertarik dengan isu-isu politik. Adapun mimpi naif dalam diri saya saat masih 16 tahun untuk menjadi pemimpin. Apapun kedepannya, saya sangat menyukai apa yang saya pelajari dari ilmu politik.

Dosen mata kuliah ekonomi politik saya memberikan tugas yang benar-benar unik. Beliau menyuruh peserta kelas untuk menulis essay non-ilmiah yang menceritakan tentang kehidupan pribadi sebagai kelas menengah. Wah, Kesadaran Kelas 101. Tugas ini saya kerjakan dengan sungguh-sungguh. Maksud saya dengan sungguh-sungguh adalah sungguh-sungguh jujur. Terkait dengan cerita kehidupan saya sebagai kelas menengah, saya menceritakan bagaimana sanak saudara saya mengejek saya ketika ia mengetahui bahwa saya pernah aksi turun ke jalan. Iya, demo! Intinya saya menceritakan bahwa bagi saya aksi turun ke jalan yang dilakukan oleh mahasiswa kebanyakan hanya untuk ajang selebrasi diri sebagai mahasiswa. Tentunya pandangan saya tersebut tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun.

Kata seorang senior, kita harus punya katarsis. Apa itu katarsis? Katarsis adalah bahasa mewah dari pelarian. Ya, semua orang memang butuh pelarian. Cara kita melampiaskan amarah, kesedihan dan perasaan apapun yang mengganggu. Sampai sekarang, saya belum menemukan kartasis yang benar-benar pas. Saya pernah mencoba melarikan diri dengan mendengarkan musik. Saya pernah mencoba hal lain yang menyenangkan namun hanya sesaat saja. Saya pernah mencoba ibadah sesuai dengan ketentuan agama saya. Namun saya rasa… ketenangan yang menciptakan adalah kita. Kita memilih opium mana yang tepat bagi kita untuk menenangkan diri. Semua katarsis benar, namun bagi saya ada dua syarat, yaitu: (1) tidak merugikan orang lain; dan (2) tidak merugikan diri sendiri. Intinya adalah kita semua butuh pelarian.

Saat saya kecil, saya sangat tidak suka membaca. Menurut saya, membaca adalah kegiatan yang membosankan. Saya tidak menyadari betapa pentingnya membaca hingga saat saya SMA. Saya merasa diri saya amat kosong pengatahuan saat itu. Saya pun mulai membiasakan diri untuk membaca. Mulai dari baca novel hingga baca buku yang substantif. Novel kesukaan saya adalah Looking For Alaska karya John Green. Buku yang amat menyentuh, dan lucunya… buku ini mampu merefleksikan beberapa keping diri dan kehidupan saya. Kemudian buku substantif yang saya baca sampai habis adalah Ruang Publik, Identitas dan Memori Kolektif: Jakarta Pasca-Suharto karya Abidin Kusno. Buku ini seakan mengajak saya bersemiotika dengan ruang-ruang kota. Sayangnya, pada hari-hari perkuliahan saya lebih sering disibukkan untuk membaca bahan-bahan kuliah.

Saya mulai mengoleksi artikel-artikel berita semenjak tahun 2015. Saya menggunting dan memindai guntingan koran lalu saya input di laptop saya. Apa tujuannya? Motivasi awalnya adalah agar saya memiliki pengetahuan yang luas. Kemudian saya bermotivasi untuk menulis hal-hal yang substantif, faktual nan aktual. Intinya adalah saya tidak ingin menulis berbagai isu sosial-politik dengan basis argumen normatif saja. Namun.. saya sekarang terjebak dengan budaya mengutip pernyataan orang lain. Orisinalitas saya dalam berargumentasi masih rendah. Kembali ke tujuan awal tulisan ini, saya ingin melatih orisinalitas saya.

Saya anggap dialektika diri ini sudah cukup sampai di sini.

Earnestly,

Jazirah R. Manalang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s