Pemikiran politik Machiavelli dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya. Machiavelli menganut ideologi realisme dan menerapkan prinsip pragmatisme dalam pemikirannya mengenai kekuasaan. Beliau pun juga disebut-sebut sebagai “Bapak Empirisme.” Pemikiran Machiavelli mengenai kekuasaan merupakan sumbangsih besar terhadap pemikiran politik barat dan juga dunia. Terma “Machiavellian” sering digunakan untuk menjuluki politikus yang mengaplikasikan pemikiran Niccolò Machiavelli. Dikatator Italia, Benito Mussolini, merupakan seorang pemimpin kuat dan kejam yang lebih ditakuti dibandingkan dicintai. Mussolini mengaku bahwa ia terinspirasi oleh The Prince karya Niccolò Machiavelli. Presiden Amerika Serikat ke-37, Richard Nixon, memandang bahwa The Prince merupakan handbook untuk negarawan dan sebuah karya analisis yang relevan dengan dunia modern.[1]

Gagasan kekuasaan menurut Niccolò Machiavelli memiliki pengaruh yang besar terhadap kontelasi politik di Eropa maupun di dunia. Tokoh-tokoh politik seperti Richard Nixon, Henry Kissinger, Benito Mussolini, dan Adolf Hitler menjadikan pemikiran politik Machiavelli sebagai referensinya. Pada bukunya yang berjudul Pemikiran Politik Barat, Ahmad Suhelmi menyatakan bahwa ada dua alasan gagasan kekuasaan Machiavelli patut dikaji. Pertama, gagasan Machiavelli menjadi sumber insipirasi yang tak pernah kering bagi banyak penguasa sejak awal gagasan itu dipopulerkan sampai abad XX.[2] Kedua, jika dilihat dari perspektif sejarah pemikiran politik, gagasan Machiavelli merupakan pemutusan hubungan total masa kini dengan masa lalu, suatu ciri penting abad Renaissance.[3]

Karyanya yang berjudul Il Principe (The Prince) merupakan sebuah handbook yang menjelaskan bagaimana cara mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Gagasan Machiavelli mengenai kekuasaan tertuang dan termanifestasi pada The Prince. Berbeda dari karyanya yang berjudul Discourse of Livy, karya The Prince lebih memusatkan perhatian kepada pertanyaan praktis mengenai metode apa yang seorang penguasa (dalam konteks ini ‘prince’) hendak terapkan untuk mengolah pemerintahan secara efektif. The Prince membahas “Apa sajakah persyaratan yang harus dimiliki seseorang dan metode-metode apa yang harus digunakan untuk memperkuat dan mempertahankan kekuasaan monarki.”[4] Membaca The Prince saat ini akan menimbulkan kekaguman, karena teori-teori politik kekuasaan yang diungkapkan Machiavelli dalam karyanya itu tetap relevan dengan konteks politik kekuasaan yang dihadapinya saat ini.[5]

Machiavelli menggunakan kata virtù untuk mendefinisikan kualitas seorang pemimpin. Namun konsep tersebut berbeda dari konsep virtue yang dipahami pada konteks modern dan juga oleh Gereja. Virtue yang dimaksudkan oleh Machiavelli bereferensi pada kualitas yang dimiliki oleh pemimpin militer Roma yang termotivasi oleh ambisi untuk mencapai kejayaan. Pada konteks tindakan seorang pemimpin, moral tidak diprioritaskan dalam pengaturan sebuah negara dan pemerintahan. Aspek-aspek lain dari virtù adalah ketegasan, disiplin dan kemampuan menganalisis situasi secara rasional sebelum menentukan kebijakan. Meskipun Machiavelli percaya bahwa manusia memiliki kendali atas dirinya sendiri, Machiavelli juga percaya bahwa terdapat elemen kemungkinan yang terlepas dari kendali manusia. Machiavelli menyebut elemen tersebut sebagai fortuna. Machiavelli memandang kehidupan politik merupakan perpaduan antara elemen virtu dan fortuna.[6]

Pada The Prince bab XVII, Machiavelli menjelaskan pandangan mengenai bagaimana sifat seorang penguasa seharusnya. Menurutnya, penguasa seharusnya menginginkan dirinya untuk dianggap sebagai sesosok yang clement (lemah lembut) dibanding kejam. Penguasa juga perlu mempertimbangkan berbagai hal sebelum mempercayai sesuatu dan melakukan tindakan. Apakah penguasa lebih baik dicintai atau ditakuti? Machiavelli berpandangan bahwa penguasa perlu dicintai dan juga ditakuti, akan tetapi jika harus memilih salah satu, penguasa lebih baik ditakuti oleh rakyatnya. Selain itu, penguasa hendaknya menghindari kebencian.

Machiavelli berpandangan bahwa terdapat dua tujuan yang dapat menjustifikasi bentuk pemerintahan monarki atau kediktatoran. Pertama adalah untuk membentuk negara dari unit-unit kecil. Tujuan kedua adalah untuk mereformasi negara yang korup. The Prince memberikan panduan bagi penguasa dalam menghadapi situasi tersebut. Pada dasarnya, Machiavelli menulis The Prince dalam rangka menjelaskan bagaimana Italia yang pada abad ke-16 terpecah belah dapat dipersatukan sebagai sebuah negara.[7]

Menurut Machiavelli, pada dasarnya pemegang utama kekuasaan berada di tangan rakyat. Kekuasaan didelegasikan kepada seorang individu atau sekelompok orang untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Seperti yang Machiavelli nyatakan pada karyanya yang berjudul Discourse of Livy, “But as to prudence and stability, I say, that a people is more prudent, more stable, and of better judgment than a Prince: And not without reason is the voice of the people like that of God, for a universal opinion is seen causes marvelous effects in its prognostication, so that it would seem that by some hidden virtu, evil or good is foreseen.”[8] Dengan kata lain, Machiavelli menyatakan bahwa pendapat rakyat sesungguhnya lebih bijaksana dibandingkan kebijaksanaan penguasa. Dalam pernyataannya Machiavelli juga menyamakan suara rakyat dengan suara Tuhan di mana opini universal memberikan dampak yang lebih baik.

Catatan Kaki:

[1] Tim Madigan, I Gave Them A Sword, Philosophy Now – Issue 97 https://philosophynow.org/issues/97/I_Gave_Them_A_Sword diakses pada 11 Desember 2016 pukul 14:35.

[2] Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2007, hlm. 132.

[3] Ibid.

[4] Plamenats, Man and Society, Vol. London, 1965, hlm. 15.

[5] Ahmad Suhelmi, Op. Cit., hlm. 131.

[6] Pemaparan pada paragraf ini merupakan perumusan kembali penjelasan pada buku The Politics Book, New York: DK Publishing, hlm. 78.

[7] Pemaparan pada paragraf ini merupakan perumusan kembali penjelasan A. R. M. Murray pada buku An Introduction of Political Philosophy, hlm. 57.

[8] Niccolò Machiavelli, DISCOURSES Upon The First Ten (Books) of Titus Livy to Zanobi Buondelmonti and to Cosimo Rucellai, 1517, diunduh dari http://www.constitution.org/mac/disclivy.pdf pada 4 Desember 2016 pukul 15:17.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s